Dapatkan income Tambahan Join disini

Minggu, 16 Juni 2013

TANTHOWI YAHYA KE ISREAL, APA AGENDANYA ??

Politisi Partai Golkar Tantowi Yahya bersama lima teman lain dari media, perguruan tinggi dan lembaga think tank melakukan lawatan ke Israel. Lawatan tersebut sungguh tidak bisa diterima lantaran sama saja Tantowi cs mengakui eksistensi negeri Yahudi, Israel.
Mungkin Tantowi perlu menengok sejarah ke belakang terkait sikap Indonesia yang tidak pernah menganggap keberadaan Israel. Ketika itu sang proklamator, Soekarno masih menjadi presiden Republik Indonesia (RI). 

Pada 1962 silam, dalam sebuah kesempatan pidato, Bung Karno dengan tegas mendukung perjuangan rakyat Palestina merebut tanah jajahannya dari tangan Israel.
"Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel," kata Bung Karno berapi-api. 
Meski berkali-kali dirayu, presiden pertama RI itu sangat kukuh menolak mengakui berdirinya negara Israel yang diinisiasi Inggris dan negara Barat dengan cara mengusir warga Palestina. Meski berganti rejim Orde Baru, Soeharto secara resmi juga menegaskan Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Sayangnya, perjuangan pendiri bangsa Indonesia itu mungkin dilupakan oleh Tantowi dan kawan-kawan. Darah pejuang syuhada yang gugur di medan pertempuran mungkin tidak dianggap. 
Padahal, tidak sedikit masyarakat Indonesia menyisihkan sebagian harta, tenaga, dan waktunya untuk berkoban membantu kemerdekaan Palestina.

Mengedepankan alasan berkunjung ke Israel atas undangan Australian-Jewish Association, Tantowi tidak menganggap realitas itu sebagai empati untuk tidak menginjakkan kaki di Israel. Tidak seperti Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa yang dilarang masuk Ramallah oleh Israel, mantan presenter televisi itu malah disambut hangat Juru Bicara Parlemen Israel Knesset Yuli Edelstein. 

Tantowi melakukan kunjungan ke negeri Zionis itu selama empat hari pada pekan lalu. "Dalam kunjungan tersebut kami dipertemukan dengan petinggi Israel dari mulai parlemen, pemerintahan, kalangan kampus, media, dan masyarakat biasa," kata anggota Komisi I DPR RI  itu, Selasa (11/6).

Menurut Tantowi, kedatangannya dimaksudkan untuk mengetahui proses perdamaian antara Israel dan Palestina yang sedang berlangsung. Dalam berbagai dialog dengann narasumber di Israel, pihaknya menyimpulkan bahwa negeri pimpinan Shimon Peres itu belum berlaku adil terhadap Palestina. "Mana ada perdamaian tanpa keadilan?" ujar Tantowi.

Kunjungan secara diam-diam anggota Komisi I DPR, Tantowi Yahya dan rombongan sejumlah tokoh dari Indonesia ke gedung Parlemen Israel Knesset sangat mengejutkan. Apalagi, dari foto terlihat, delegasi Indonesia sangat akrab dengan pejabat negeri Zionis itu. Kenyataan itu menimbulkan banyak pertanyaan bagi publik. 
Kondisi berbeda pernah diterima perwakilan resmi Pemerintah Indonesia. Marty Natalegawa bersama menlu dari 12 negara lain pernah berencana berkunjung ke Ramallah, Palestina, pada Ahad-Senin, 5-6 Agustus 2012. Marty dijadwalkan menghadiri pertemuan tingkat menteri Gerakan Non Blok (GNB) tentang Palestina.

Sayangnya, pihak Israel yang memiliki otoritas tidak mengizinkan mantan duta besar RI untuk PBB itu. Alhasil, pertemuan pertemuan GNB dibatalkan karena lima menteri luar negeri dari 13 negara yang akan mengikuti pertemuan tersebut ditolak masuk ke Ramallah. 
Lima menlu yang ditolak masuk ke Ramallah tersebut, yaitu berasal dari Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Kuba, dan Aljazair, yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, sekarang, Israel dengan terbuka menerima kunjungan Tantowi Yahya. Mengapa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar