Dapatkan income Tambahan Join disini

Senin, 07 Juli 2014

PERSIS : Minta Maaf Jakarta Post tak Hilangkan Unsur Pidana

Sekretaris Umum PP Persatuan Islam (Persis), Irfan Safruddin mempertanyakan, kinerja Jakarta Post yang ceroboh memuat karikatur yang menghina pemeluk agama Islam. Dia menyentil, apakah penerbitan karikatur yang menghina kaum Muslim tersebut muncul dari koran berbahasa Inggris atau media amatiran?

"Meskipun Jakarta Post telah meminta maaf dan menyatakan itu sebagai kesalahan, namun pertanyaan itu tetap muncul," tutur Irfan saat dihubungiRepublika Online, Senin (7/7) sore.

Menurut dia, Jakarta Post adalah koran besar dan bereputasi tinggi. Namun, ia mempertanyakan mengapa pihak redaksi bisa memunculkan karikatur yang demikian menistaan umat Islam. Dia pasti hal itu tidak hanya sekadar lolos dari pengawasan, dan tentu ada tujuannya atau maksud tertentu.

Menurut Irfan, mustahil karikatur itu keluar begitu saja karena di internalJakarta Post tentu memiliki tim redaksi berjenjang yang mengawasi pemberitaan. "Jadi, meskipun sudah ada permohonan maaf, kasus ini tidak akan menghilangkan unsur pidananya," tegas Irfan.

Dalam edisi yang dimuat di halaman 7, harian berbahasa Inggris tersebut memuat karikatur dengan gambar simbol Islam dalam ukuran yang cukup besar di rubrik Opini. Itu setelah karikatur tersebut menggambarkan bendera berlafaz 'laa ilaha illallah' dengan logo tengkorak yang terpasang di bendera.

Tidak sekadar itu, lafaz tahlil tersebut dipadukan dengan bendera tengkorak khas bajak laut. Kemudian, tepat di tengah tengkorak, tertera tulisan 'Allah, Rasul, Muhammad'.

PEDOMAN MEMILIH BAGI UMMAT ISLAM ESOK HARI

Tidak selamanya seseorang mengambil yang semuanya baik, kadang ia harus menaruh pilihan pada yang terbaik di antara dua pilihan. Suatu waktu bisa pula dihadapkan dengan dua mudarat sehingga ia harus mengambil yang mudaratnya lebih ringan.

Jika seseorang bisa mengambil yang terbaik di antara dua pilihan dan bisa mengambil yang lebih ringan dari dua pilihan, itulah seseorang yang disebut cerdas.
Demikianlah kesimpulan dari Ibnu Taimiyah di mana beliau pernah berkata,
لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ الْخَيْرَ مِنْ الشَّرِّ وَإِنَّمَا الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ خَيْرَ الْخَيْرَيْنِ وَشَرَّ الشَّرَّيْنِ
“Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yg cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan.

إنَّ اللَّبِيبَ إذَا بَدَا مِنْ جِسْمِهِ مَرَضَانِ مُخْتَلِفَانِ دَاوَى الْأَخْطَرَا
“Orang yang cerdas ketika terkena dua penyakit yang berbeda, ia pun akan mengobati yang lebih berbahaya.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 54).

Jadi ada pilihan yang sama buruk dan baiknya, namun beda kelas. Jadi ada yang baik dan ada yang lebih baik, juga ada yang buruk dan ada yang lebih buruk lagi.
Syaikh As Sa’di melantunkan syair dalam pelajaran kaedah fikih beliau,
فإن تزاحم عدد المصالح
يقدم الأعلى من المصالح
Apabila bertabrakan beberapa maslahat
Maslahat yang lebih utama itulah yang lebih didahulukan
وَضِدُّ تَزَاحُمُ المفَاسِدِ
يُرْتَكَبُ الأَدْنَى مِنَ المفَاسِدِ
Lawannya, jika bertabakan dua mafsadat (kerusakan),
Pilihlah mafsadat yang paling ringan

SELAMAT MEMILIH BAGI MASA DEPAN BANGSA
--------------------------------------------------------------------------------

MUHAMMADIYAH : KARTUN JAKARTA POST, HINA UMMAT ISLAM

Karikatur yang dimuat Jakarta Post, edisi Kamis, 3 Juli 2014 menuai kecaman dari berbagai pihak. Termasuk dari organisasi masyarakat (ormas) Islam, Muhammadiyah. Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Daulay mengatakan bahwa karikatur tersebut bisa saja diduga telah melanggar UU Nomor 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama.

Dia menjelaskan, untuk mengetahui apakah ada unsur penodaan di karikatur tersebut, Muhammadiyah akan melakukan kajian terlebih dahulu. "Jika terbukti ada unsur penodaan agama, tidak tertutup kemungkinan kami akan melaporkan hal ini kepada pihak berwajib, ujar Daulay saat dihubungi Republika Online, Senin (7/7). 

Daulay juga menyebut, semua pihak tidak ada yang kebal di hadapan hukum, termasuk redaksi Jakarta Post. "Semua pihak yang diduga melakukan pelanggaran dituntut untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, termasuk dalam hal ini Jakarta Post," ujarnya.

Dalam edisi yang dimuat di halaman 7, harian berbahasa Inggris tersebut memuat karikatur dengan gambar simbol Islam dalam ukuran yang cukup besar di rubrik Opini. Itu setelah karikatur tersebut menggambarkan bendera berlafaz 'laa ilaha illallah' dengan logo tengkorak yang terpasang di bendera.

Tidak sekadar itu, lafaz tahlil tersebut dipadukan dengan bendera tengkorak khas bajak laut. Kemudian, tepat di tengah tengkorak, tertera tulisan 'Allah, Rasul, Muhammad'.

Rabu, 02 Juli 2014

atribut dissobek : PRABOWO : Jangan dibalas....

Capres usungan Partai Koalisi Merah Putih, Prabowo Subianto mengikuti sahur bersama di GOR Satria, Purwokerto, Jawa Tengah, Rabu dini hari (2/7). Saat tiba di GOR sekitar pukul 03.20 WIB, para pendukung Prabowo yang telah menanti langsung menyambut Prabowo dengan gemuruh shalawat Nabi.

Saat santap sahur bersama para pendukung, nampak Prabowo didampingi tokoh agama Banyumas, Habib A. Assegaf asal Kedung Banteng, lalu ada Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta Jawa Tengah Wisnu Suhandono, kemudian Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, anggota DPR Gerindra Sadar Subagyo, dan eks Presiden PKS Hidayat Nur Wahid.Di sela-sela sahur, tim musik tradisional angklung Banyumasan ikut menghibur mengantarkan suasana sahur.

Sekitar 45 menit setelah sahur, Prabowo mendengar laporan sekelompok orang yang tengah melakukan kecurangan kampanye dengan aksi mereka yang menyobek dan mencopot spanduk dirinya. Namun luar biasanya, ia malah meminta kepada pendukungnya untuk tidak membalas perbuatan orang-orang tersebut.

"Tinggal 1 minggu kurang 8 hari, kita mengerti ada rencana yang tidak baik. Banyak gambar disobek dan diturunkan, jangan kita balas. Becik setitik ala ketara (kesalahan sedikit akan kelihatan). Tapi Allah akan menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah," ujar Prabowo saat memberikan sambutan di hadapan ribuan pencinta setia yang hadir di pelataran GOR Satria.

Prabowo juga mengatakan bahwa ada kekuatan yang ingin menumbuhkan komunisme di negara ini. Karenanya mantan Pangkostrad itu mengimbau, meski ada kekuatan tertentu yang merobek-robek kekuatan yang telah dibentuk untuk tidak membalasnya.

"Kalau mereka merobek-robek kita, jangan kita balas. Kita percaya rakyat Indonesia tidak bisa dibohongi sekarang. Meski mereka tidak ingin Indonesia terhormat, tidak ingin berwibawa," ujar pria yang dikenal sangat santun terhadap saudara sebangsa dan tegas terhadap musuh negara itu.

FRANZ MAGNIS KLARIFIKASI SURATNYA

 Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara sekaligus tokoh rohaniawan Katolik,
Romo Frans Magnis Suseno memberikan klarifikasi atas tulisannya yang kini tersebar luas di berbagai media. Menurut Romo Magnis, tulisan tersebut bukan sebuah surat terbuka.
Melainkan kritik terhadap capres nomor urut 1, Prabowo Subianto. "Mungkin bukan surat terbuka, tapi kritik saya terhadap Prabowo," kata Romo Magnis saat dihubungi ROL, Rabu (2/7).
Romo Magnis mengatakan tulisan itu tidak ditulis untuk dijadikan surat terbuka. Dia membuat tulisan itu dan disampaikannya melalui imel komunitas. 
"Saya memang menulis kritik terhadap Prabowo, benar itu tulisan saya. Tapi itu bukan surat terbuka kepada media, saya tulis itu dalam sebuah imel," katanya.
Namun, ia menegaskan, tak pernah melarang pihak mana pun untuk menyebarluaskan tulisannya tersebut. "Saya sadar tulisan itu akan menyebar," ujar dia.
Romo Magnis mengatakan, tulisan itu merupakan wujud rasa kagetnya karena Prabowo kini semakin dijunjung oleh orang Islam garis keras. Dia sendiri menyatakan tidak memiliki masalah dengan Prabowo atau meragukan itikad Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut.
Romo Magnis menulis surat terbuka terkait Prabowo yang berisi keengganannya untuk memilih Prabowo. Surat itu pertama kali diunggah oleh salah satu pendukung Joko Widodo (Jokowi), Mardiyah Chamim dalam laman facebook-nya. 

SURAT ROMO FRANZ MAGNIS SUSUENO SJ Kepada Prabowo

Surat Franz Magnis Suseno soal alasannya tidak mendukung Prabowo Subianto menyebar di Facebook, belum lama ini. Berdasarkan penelusuran Laskar Jokowi, surat tersebut diposting pertama kali oleh Direktur Eksekutif Tempo Institute Madiyah Chamim melalui dinding Facebooknya.
Begitu membaca surat tersebut, seorang teman Mardiyah kemudian bertanya, “Mbak, sumbernya dari mana ya, aku cari belum ketemu. Trims ya Mbak.” Mardiyah pun membalas, “Dikirim via bbm dan whats app. Kontak langsung Romo untuk follow up.” Surat itu pun menyebar.
Franz Magnis Suseno, atau akrab disapa Romo Magnis, adalah Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara. Romo Magnis dikenal publik juga melalui banyak tulisannya di media massa. Selain itu, Romo Magnis kerap menjadi pembicara dalam seminar-seminar.Ia paling vokal bila berbicara mengenai Hak Asasi Manusia.
Berikut Surat Romo Magnis yang kami kutip dari Facebook Mardiyah Chamim:
Saudara-saudari,
Pertama, saya mohon maaf kalau kiriman ini yang jelas berpihak, tidak berkenan, apalagi di masa puasa. Namun beberapa hari sebelum pilpres saya merasa terdorong sharing kekhawatiran saya.
Saya mau menjelaskan dengan terus terang mengapa saya tidak mungkin memberi suara saya kepada Bapak Prabowo Subiyanto. Masalah saya bukan dalam program Prabowo.
Saya tidak meragukan bahwa Pak Prabowo, sama seperti Pak Joko Widodo, mau menyelamatkan bangsa Indonesia. Saya tidak meragukan bahwa ia mau mendasarkan diri pada Pancasila. Saya tidak menuduh Beliau antipluralis. Saya tidak meragukan iktikat baik Prabowo sendiri.
Yang bikin saya khawatir adalah lingkungannya. Kok Prabowo sekarang sepertinya menjadi tumpuan pihak Islam garis keras. Seakan-akan apa yang sampai sekarang tidak berhasil mereka peroleh mereka harapkan bisa berhasil diperoleh andaikata saja Prabowo menjadi presiden?
Adalah Amien Rais yang membuat jelas yang dirasakan oleh garis keras itu: Ia secara eksplisit menempatkan kontes Prabowo – Jokowi dalam konteks perang Badar, yang tak lain adalah perang suci Nabi Muhammad melawan kafir dari Makkah yang menyerang ke Madinah mau menghancurkan umat Islam yang masih kecil! Itulah bukan slip of the tongue Amien Rais, memang itulah bagaimana mereka melihat pemilihan presiden mendatang.
Mereka melihat Prabowo sebagai panglima dalam perang melawan kafir. Entah Prabowo sendiri menghendakinya atau tidak. Dilaporkan ada masjid-masjid di mana dikhotbahkan bahwa coblos Jokowi adalah haram. Bukan hanya PKS dan PPP yang merangkul Prabowo, FPI saja merangkul.
Mengapa? Saya bertanya: Kalau Prabowo nanti menjadi presiden karena dukungan pihak-pihak garis keras itu: Bukankah akan tiba pay-back-time, bukankah akan tiba saatnya di mana ia harus bayar kembali hutang itu? Bukankah rangkulan itu berarti bahwa Prabowo sudah tersandera oleh kelompok-kelompok garis keras itu?
Lalu kalimat gawat dalam Manifesto Perjuangan Gerindra: “Negara dituntut untuk menjamin kemurnian ajaran agama yang diakui dari segala bentuk penistaan dan penyelewengan dari ajaran agama”. Kalimat itu jelas pertentangan dengan Pancasila karena membenarkan penindasan terhadap Achmadiyah, kaum Syia, Taman Eden dan kelompok-kelompok kepercayaan.
Sesudah diprotes Dr. Andreas Yewangoe, Ketua PGI, Pak Hashim, adik Prabowo, sowan pada Pak Yewangoe dan mengaku bahwa kalimat itu memang keliru, bahwa Prabowo 2009 sudah mengatakan harus diperbaiki dan sekarang sudah dihilangkan. Akan tetapi sampai tanggal 25 Juni lalu kalimat itu tetap ada di Manifesto itu di website resmi Gerindra. Bukankah itu berarti bahwa Hashim tidak punya pengaruh nyata atas Gerindra maupun Prabowo?
Terus terang, saya merasa ngeri kalau negara kita dikuasai oleh orang yang begitu semangat dirangkul dan diharapkan oleh, serta berhutang budi kepada, kelompok-kelompok ekstremis yang sekarang saja sudah semakin menakutkan.
Lagi pula, sekarang para mantan yang mau membuka aib Prabowo dikritik. Tetapi yang perlu dikritik adalah bahwa kok baru saja sekarang orang bicara. Bukankah kita berhak mengetahui latar belakang para calon pemimpin kita?
Prabowo sendiri tak pernah menyangkal bahwa penculikan dan penyiksaan sembilan aktivis yang kemudian muncul kembali, yang menjadi alasan ia diberhentikan dari militer, memang tanggungjawabnya. Prabowo itu melakukannya atas inisiatifnya sendiri.
Saya bertanya: Apa kita betul-betul mau menyerahkan negara ini ke tangan orang yang kalau ia menganggapnya perlu, tak ragu melanggar hak asasi orang-orang yang dianggapnya berbahaya? Apa jaminan bahwa Prabowo akan taat undang-undang dasar dan undang-undang kalau dulu ia merasa tak terikat oleh ketaatan di militer?
Aneh juga, Gerindra menganggap bicara tentang hak-hak asasi manusia sebagai barang usang. Padahal sesudah reformasi hak-hak asasi manusia justru diakarkan ke dalam undang-undang dasar kitab agar kita tidak kembali ke masa di mana orang dapat dibunuh begitu saja, ditangkap dan ditahan tanpa proses hukum.
Jakarta, 25 Juni 2014
Franz Magnis-Suseno SJ